Kemarin

Ingin dan keinginan….

ingin yang membuatmu dingin

 

manusia.

dalam secarik kertas yang membuat dahinya berpeluh dan tangan yang tercemar tinta

dari kemarin adalah tentang ingin

hingga apa bila bumi ini dibentangkan, ia tak akan cukup menampung ingin

dari sekian banyak ingin, pernahkah terlintas dalam nurani dan benakmu ? tentang kemarin ?

dari kemarin kau lahir, dari kemarin kau makan, dari kemarin kau minum, berjalan dan bernafas

sudah seberapa banyak kau menulis tentang kemarin ?

 

aku berterimakasih atas udara kemarin

aku berterimakasih atas cahaya kemarin

aku berterimakasih atas nyawaku kemarin

aku berterimakasih atas kenyangku kemarin

aku berterimakasih untuk kemarin dan esok yang akan menjadi kemarin

 

terimakasih duhai yang tak terikat esok dan kemarin

 

sang awal dan akhir ……. Ya Hayy


afternoon

O thou that is opposite to my cup, what the hell were you thinking? what did you write that makes your brow furrowed? This afternoon are too perfect to mash with the wrinkles on your forehead. so, than you’re lonely, here I write a number for you


Te Amo

Well I been trying to meet you baby
I been trying to seek your lovely
Tell me where you come from darling
Tell me where you run to honey
I am only here to listen
And I am only here to fear
Tell me everything about you
Tell me about all the hearts you steal
Fire is burning round me
Are you gonna burn with me too
Cause I don’t really want this life
All I really want is you
Are you gonna take me up there
Are you gonna help me see
Are you gonna lift this madness or are you going to bury me

So shall I run
Or shall I fall, shall I fall for you
I’ll burn it down, I’ll sell it all, sell it all for you
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/t/trevor_hall/te_amo.html ]
Well tell me mama am I dreamin
Or am I too deep in sleep
All of my friends have told me a woman makes a man’s heart weak
But I don’t really want to listen
I don’t believe what they say
Cause I want to be your shelter and I want you to shelter me
Whether in a town or city, 
It all starts to seem the same.
Without you in my heart, 
I’m a cold man I have to say.
Living my life in shadows
I don’t know what this all means, 
But I am a seeker and I’m seeking you to rescue me

So shall I run
Or shall I fall, shall I fall for you
I’ll burn it down, I’ll sell it all, sell it all for you
So shall I run
Or shall I fall, shall I fall for you
I’ll burn it down, I’ll sell it all, sell it all for you
#mce_temp_url#


Fana’

To Pass away from self (fana’) is to realize that self does not exist, and that nothing 

exist except God (tauhid)” (R. A. Nicholson, 1973: 50)


True greatness of man

“My lord, you can walk on water!” The students said with great admiration to Bayazid al-Busthami.

 

“That’s nothing. A piece of wood is also permissible, “said Bayazid.

 

“But you are also flying in the sky.”

 

“Similarly, the birds,” Bayazid point to the sky.

 

“You are also able to travel to the Kaaba in one night.”

 

“Any traveler who would be able to go strong from India to Demavand in one night,” said Bayazid.

 

“Then, what true greatness of a man?” The disciples wanted to know.

 

“True man,” said Bayazid, “are those who are not able to attach his heart to something else but God.”


Candu samudra

Malam itu aku gelisah

sekujur tubuh menggigil dan basah oleh peluh

aku tak mengerti mengapa

kurasa sudah, tapi entah mengapa jiwa ini terus haus tuk bertemu

jiwa ku berteriak tentang mu

Duhai sang pemilik taman

yang dimana didalamnya ribuan mawar menari melawan garis waktu

ketika akhirnya jiwaku memaki dan menamparku

barulah aku sadar

jiwa ini telah mencandu mu

bersama ribuan syair tentang mu

bersama ribuan sajak dan nyanyian tentang kekasihmu

duhai…..hempaskan aku kedalam samudra mu


Imam Hasan dan sepotong roti

Suatu hari Imam Hasan as. melewati sekelompok orang-orang fakir yang telah meletakkan potongan-potongan kecil roti di atas tanah lantas melahapnya. Mereka mengajak Imam as. untuk duduk makan bersama. Imam pun duduk di tengah-tengah mereka dan makan bersama. Imam as. berkata: “Sesungguhnya Allah swt. tidak me-nyukai orang-orang sombong.” Kemudian Imam meminta mereka untuk memenuhi undangannya. Tak ayal lagi, mereka pun bergegas pergi bersamanya. Ia memberi makan dan pakaian kepada mereka sampai mereka puas.


Di depan gerbang taman mu…..

“That which God said to the rose, and caused it to laugh in full-blown beauty, He said to my heart, and made it a hundred times more beautiful.” 
 Rumi

 

Demi kelopak mawar dan harumnya yang mewangi…….

Demi merah yang meronakan pipimu……..

Aku berdiri didepan gerbang nya, sebuah taman yang membawaku hanyut bersama indahnya warna mu……

Duhai engkau sang pemilik taman yang membuat jantungku berdegup kencang

Duhai engkau sang pemilik lautan yang dengan setetes airnya mampu menumbuhkan ribuan tangkai mawar……

Duhai engkau sang pemilik , sang penebar, sang mewangi

Aku larut dalam pusaran mu

Tentang rasa, tentang masa dimana tak ada masa….

Tentang ruang tak bersudut dan tak bertepi……

Bagaimanakah caraku untuk mengerti ?

Bagaimanakah caraku tuk memaknai ?

Engkau yang tak terjamah, engkau yang tak berbatas……..

Engkau yang tersendiri dalam kesendirian mu……..

Duhai…..alangkah bahagianya diriku jikalau aku menjadi debu yang dengan setetes kasih mu mampu menumbuhkan satu diantara ribuan mawar di tamanmu……

Duhai………


Desember

“The minute I heard my love story I started looking for you, not knowing how blind it is. Lovers  don’t  finally meet somewhere .They’re in each other all along.”

-Jalal-ad-Din Rumi-

Desember, ceritakanlah rupa mu tatkala daun telah gugur dan salju perlahan turun. Ceritakanlah rupamu tatkala danau dan kanal mulai membeku, tatkala para nelayan menatap horison dengan janggut mereka yang membeku. Ceritakanlah rupa mu tatkala kau menatap iring iringan burung yang terbang mencari kehangatan selatan, ceritakan lah rupa mu tatkala kau  berdiri dan menyalakan lampu suar untuk memandu ku berlabuh.

Atas nama beku yang merubah semua warna menjadi putih dan menidurkan bunga, atas nama beku yang mengosongkan panas dari udara, semoga beku tak menghapus senyum mu yang membuatku kosong saat pertama ku melihat mu. Semoga beku tak menghapus  denting nada dari hati mu, karena denting nada itu kian  nyaring dalam denyut nadiku.

Schatje, akan kuceritakan bagaimana Desember ku sini bersama iring iringan burung yang terbang mencari kesejukan utara, bersama nyanyian nelayan yang menatap horison yang telah hangat kembali, bersama daun daun dan bunga bunga yang kembali berwarna, bersama menara suar yang kembali berkilau.

Schatje sebelum burung burung kembali ke utara, izinkan aku untuk berputar dalam garis yang melawan waktu, mengosongkan cangkir sebelum kembali terisi dengan cerita dan senyum mu,    wacht op mij schatje.

-Irfan Ghandi-


Ganja dan Sufi


Asmat, baru saja bertobat. Ia mulai menyadari masa lalunya dengan narkoba menyesatkan dirinya. Ketika mulai masuk dunia Sufi, Asmat justru kembali ke narkoba lagi. “Kamu kok begitu sih Mat? ”tegur kawannya, Darwis.
“Saya lakukan eksperimen, siapa tahu saya berdzikir sambil mengganja, tambah uueeenak, melayang dzikirku…”
“Kamu memang sudah edan makan semir Mat…”
“Coba Wis, kamu coba. Nganja sambil dzikir pasti enak tenan…”
Darwis nggak habis pikir pandangan Asmat yang kontroversial ini.
“Kamu sudah ghurur Mat. Kamu terkena tipudaya…?”
“Bagaimana kamu bilang begitu. Kan banyak orang berdzikir yang dicari nikmatnya dzikir, bahkan kalau perlu bisa nangis-nangis segala…”
“Lhahadala…Itu to yang membuatmu begitu…”
“Jelaskan?”

“Dzikir itu tujuannya agar bertemu Allah, Musyahadah kepada Allah, hadir di depan Allah. Bukan mencari nikmatnya dzikir atau…. Bisa-bisa kamu melayang nggak karuan campur syetan nanti…”
“Campur syetan bagaimana Wis?”
“Kamu nge-ganja, pasti kamu mengkhayal. Sedangkan hatimu tidak ingin sama sekali bersenang-senang dengan kenikmatan khalamu, hatimu hanya sedang mengingat Allah, bagaimana bisa nyampe pada Allah, kalau yang kau unggulkan, kau senangi selera nafsumu?”
Asmat bengong lagi….

“Sudah begini saja, teruskan nge-ganjamu. Apa kamu nanti bisa bertemu Allah atau bertemu syetan…Coba! Nanti kalau kamu dicabut nyawamu saat kamu nge-ganja sambil dzikir, kamu husnul khotimah apa su’ul khotimah, saya nggak mau ikut-ikut akh…”
Asmat lalu menyedot sekuat-kuatnya ganja yang di tangannya. Semakin lama ia mengkhayal semakin bergentar jantungnya, semakin gelisah dan gundah jiwanya. Diam-diam ia bisa membedakan mana hasrat nafsu dibalik ibadah, hasrat nafsu dengan kemanjaan dan khayalan, dan hasrat hati yang sesungguhnya.
“Wiisss…! Darwiiiiiiiisss! Kamu dimana Wis!…”
Asmat berteriak sekencang-kencangnya.
“Aku sejak tadi disini Mat. Di dekatmu….”
Asmat terkejut dan mulai menangis sesenggukan.

Via http://kafe-sufi.blogspot.com/2011/02/ganja-dan-sufi.html


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.